Penemuan Warna

by

Warna merupakan unsur penting dalam dunia percetakan. Tanpa warna, hasil desain yang akan dicetak tidak akan memiliki nilai estetika yang dapat menarik orang untuk melihatnya. Hal ini sesuai dengan apa dikemukakan oleh Arniti Kusmiati dan Pramudji Suptandar dalam bukunya “Unsur Warna dalam Perancangan Desain” bahwa warna menjadi unsur penting dalam sebuah desain. Sebab, warna membuat suatu karya desain memiliki nilai lebih. Warna sendiri merupakan mutu cahaya yang dapat ditangkap oleh indra pengelihatan kita (Arniti Kusmiati dan Pramudji Suptandar, 1997:1). Sedangkan menurut Mita Purbasari (2000:12-13), warna adalah sebuah alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan suatu pesan, ide, ataupun gagasan tanpa menggunakan tulisan atau bahasa.

Dari pernyataan ini dapat kita simpulkan, salah satu unsur penting dalam percetakan digital adalah bagaimana warna yang merupakan sebuah penambah nilai dalam hasil karya atau desain dapat diproduksi secara tepat. Produksi dari pewarnaan yang tepat juga perlu didukung oleh pengetahuan mengenai asal mula warna itu sendiri. Oleh karena itu mari kita sedikit mempelajari sejarah dari warna.

Warna sendiri ditemukan melalui berbagai percobaan oleh beberapa ilmuan pada tahun yang berbeda. Temuan-temuan itu saling menopang satu sama lain sehingga pengetahuan akan warna terus berkembang dari zaman ke zaman.

  • Tahun 1660 : Issac newton melakukan percobaan dengan prisma kaca yang membuktikan bahwa sinar putih terdiri dari beberapa warna (spektrum warna).
  • Tahun 1731 : J. C. Le Blon menemukan warna utama yaitu kuning, merah, dan biru sebagai warna utama.
  • Tahun 1790 : Hermann Von Helmholzt dan James Clerk Maxwell mendasarkan warna pada cahaya matahari dan bertumpu pada hukum hukum fisika.
  • Tahun 1810 : Johann Wolfgang Von Goethe menggolongkan warna menjadi dua warna utama yaitu kuning (yang berhubungan dengan kecerahan) dan biru (dengan kegelapan)
  • Tahun 1824 : Michel Eguene Chevreul, seorang direktur utama perusahaan permadani di Prancis, mengembangankan teori harmoni warna pada textile the law of simultaneous constrast of colour. Ia juga mengembangkan teori merah kuning biru.
  • Tahun 1831 : David Brewster menyederhanakan warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna yaitu primer, sekunder, terseier, dan netral
  • Tahun 1879 : Ogden Rood mengembangkan teori lingkaran warna berdasarkan warna merah hijau biru dan terdapat warna putih di tengahnya.
  • Tahun 1898 : Albert H. Munsel ia mulai menggunakan sistemnya pada tahun 1898 dan menerbitkannya dalam a colour notation 1965. Ia memakai rintisan warna yang dikemukakan oleh ahli fisika berupa lingkaran warna 3 dimensi (hue, value, crhoma).
  • Tahun 1900 : Helbert E. Ives mengemukakan pencampuran warna sebagai berikut :
  • red = magenta + cyan
  • blue = magenta + turquoise

Hasil dari pencampuran ini adalah lingkaran warna dengan warna primer magenta, cyan, yellow.

  • Tahun 1934 : Farber Biren, seorang ilmuan Amerika membuat percobaan sendiri dengan membuat bagan berdasarkan warna tradisional (merah, kuning, biru). Kemudian ia membuat lingkaran warna yang pusatnya tidak di tengah karena menurutnya, warna panas lebih dominan dari pada warna sejuk.

Teori-teori inilah yang mendorong berkembangnya penggunaan warna diberbagai bidang termasuk dalam bidang desain dan digital printing. Anda memiliki kebutuhan cetak yang cepat dan berkualitas? Tidak perlu repot-repot keluar dari rumah anda

About Author: Percetakan Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *