Mengenal lebih dalam Istilah Emboss & Deboss

Mengenal lebih dalam Istilah Emboss & Deboss

Pada artikel kali ini kita akan membahas lebih dalam mengenai salah satu efek dalam dunia percetakan yaitu emboss & deboss. Emboss merupakan sebuah proses akhir setelah cetak yang membuat hasil cetak timbul keluar. Sementara deboss membuat hasil cetak masuk ke dalam.

Emboss

Deboss

 

Cetakan emboss berasal dari logam yang dihasilkan melalui proses cukil yang disebut klise. Cetakan itu terdiri dari dua bagian, yaitu bagian yang menonjol dan bagian yang cekung ke dalam. Selanjutnya media cetak yang akan di emboss diletakkan di antara cetakan yang menonjol dan cekung.

Sebaliknya, deboss yang memberi hasil akhir berupa hasil cetak yang masuk ke dalam dilakukan dengan cara yang sama dengan emboss namun dengan menukar posisi cetakannya, yaitu bagian yang menonjol dan cekung. Ketinggian ataupun kedalaman dari emboss atau deboss dapat diatur sesuai kebutuhan. Kertas dengan gramatur yang lebih besar akan menimbulkan efek emboss dan deboss yang lebih jelas.

Proses emboss dan deboss  ini dapat dilakukan dengan menggunakan mesin (digital embossing) dan manual. Namun saat ini telah ditemukan inovasi baru dalam membuat emboss & deboss yaitu menggunakan chemical embossing atau yang disebut efek kulit jeruk. Cara ini merupakan teknik cetak offset dengan menggunakan 3 tahap pelapisan yang dilakukan secara bersamaan pada 1 mesin (inline), yaitu dengan memadukan antara tinta proses UV CMYK (Cyan, Magenta, Yellow,danBlack) yang kemudian dilapisi tinta UV khusus atau OP varnish (overprint varnish), pada area cetak tertentu. Setelah kering seluruh media cetak dilapisi lagi dengan UV varnish  atau gloss varnish dan kemudian dikeringkan kembali secara bersamaan dengan lampu ultra violet (UV Lamp).

Mari kita simak bersama proses lebih detail dari emboss dan deboss.

Cetakan atau acuan cetak untuk membuat emboss terbuat dari 2 lempeng baja atau kuningan yang tebalnya 16 hingga 18 mm atau bisa juga setinggi huruf (huruf Belanda tingginya 66, 047 point = ± 2, 476 cm). Bila dibuat lempengan setebal 16 mm, maka untuk menyamakan tingginya dengan tinggi huruf ditambahkan batang kayu dan karton.

Selanjutnya adalah proses pengetsaan dengan bahan-bahan kimia dan peralatan mesin frais. Acuan cetak yang dibutuhkan terdiri dari 2 klise yaitu stempel (gambar yang melekuk kedalam disebut juga klise betina) dan Patris (gambar yang menonjol disebut juga klise jantan). Cetak emboss tidak menggunakan rol tinta atau tanpa penintaan karena itu cetak ini juga disebut cetak buta.

Klise betina (stempel) yang mempunyai gambar cekung ke dalam, dibuat pada sebilah lempengan papan kayu yang sebelumnya dibuat gambar diatas papan tersebut. Kemudian gambar itu dikerat atau dipahat sehingga membentuk suatu acuan cetak dengan gambar yang cekung ke dalam.

Selanjutnya adalah menyiapkan patris atau cetakan lawan dari acuan cetak betina, yaitu acuan cetak jantan. Selanjutnya dengan perekat yang mengandung sedikit air karton manila setebal ± ½ mm direkatkan pada degel. Ukurannya lebih besar sedikit daripada stempelnya pada degel. Kabur batu (gips) diaduk dan dicampurkan dengan larutan gom arab sehingga terjadi campuran seperti bubur yang cukup kental. Lapisan campuran itu kira-kira setebal 3 mm diratakan di atas karton.

Lapisan itu kemudian ditutup dengan kertas sutra dan dioles sedikit dengan minyak untuk mencegah bubur menempel pada stempel. Klise betina ditutup pada bingkai dan dicetakkan tepat pada lapisan bubur dengan tekanan cetak yang ringan dan secara perlahan ke tekanan cetak yang berat.

Bubur yang ditutup dengan kertas sutra tadi akan tertekan ke dalam bagian-bagian stempel yang mendalam dan terbentuklah suatu gambar cetak lawan (patris) dari stempelnya. Proses ini kemudian disempurnakan dengan menambah bubur pada bagian-bagian yang kurang tajam, jangan lupa tutup lagi dengan kertas sutra, bila ketajaman sudah cukup, maka mesin didiamkan dalam keadaan mencetak hingga bubur patris mengering. Untuk tahap akhir, singkirkan bubur yang tak terpakai di pinggir-pinggir patris. Seperti inilah proses emboss.

Teori Warna RGB & CMYK

Teori Warna RGB & CMYK

Teori Warna RGB & CMYK – Pengetahuan akan dunia percetakan merupakan hal yang penting bagi anda yang berkecimpung di dunia desain grafis. Mengapa? Karena ada sangat banyak orang berbakat dalam dunia desain grafis namun karena kurangnya pengetahuan mereka di dunia percetakan, hasil desain mereka menjadi kurang memuaskan saat dicetak. Lantas apa yang menyebabkan permasalahan seperti itu terjadi ?

Penyebabnya bisa jadi beragam. Namun ada satu permasalahan yang seringkali tidak diperhatikan oleh para desainer dalam merealisasikan desain mereka, yaitu kurangnya pengetahuan akan konsep dasar dan teori warna. Warna merupakan faktor yang sangat penting dalam dunia desain. Tetapi jika dunia percetakan tidak mampu memenuhi keinginan tersebut, maka hasil desain akan mengecewakan. Seringkali warna pada monitor berbeda dengan warna pada saat hasil desain dicetak. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai konsep dasar dan teori warna wajib untuk dipelajari oleh para desainer grafis.

Teori warna dibagi menjadi 2 model yaitu RGB dan CMYK. Warna RGB merupakan  model warna yang bersifat additive. Di mana RGB berguna sebagai  alat penginderaan dan presentasi gambar pada tampilan visual peralatan elektronik seperti komputer dan televisi. RGB sendiri merupakan singkatan dari : R = Red (Merah), G = Green (Hijau), dan B = Blue (Biru). Ketiga warna dasar ini berfungsi untuk berbagi intensitas cahaya untuk mencerahkan warna latar yang gelap (hitam).  Warna RGB difungsikan untuk tampilan monitor peralatan elektronik seperti komputer karena latar belakang warna monitor komputer adalah hitam.

perbandingan diagram warna rgb cmyk

Warna RGB biasanya lebih terang dan jelas dan berkapasitas file besar. Hal ini dikarenakan RGB digunakan untuk presentasi visual pada monitor

Warna CMYK merupakan warna yang digunakan dalam proses percetakan. CMYK sendiri merupakan singkatan dari C=Cyan, M=Magenta, Y=Yellow (kuning), dan K=Black (hitam). Perpaduan warna ini biasanya digunakan untuk  tampilan latar belakang putih seperti kertas.

Untuk dapat menghasilkan cetakan yang sesuai dengan desain pada layar monitor, suatu karya desain dengan model warna RGB harus diubah terlebih dahulu menjadi model warna CMYK. Sebab, mesin percetakan hanya mengenal warna CMYK sebagai model warna kalibrasi dari mesin cetak. Jika model warna RGB dicetak, biasanya akan menghasilkan warna yang lebih redup, tidak terang seperti pada tam[[pilan layar monitor, karena warna yang tercetak adalah model warna CMYK.

Berikut beberapa cara konversi model warna dari RGB ke CMYK pada beberapa software desain grafis :

Adobe Photoshop
Pada menu bar pilih: Image > Mode > CMYK

Adobe Illustrator
Pada menu bar pilih: File > Document color mode > CMYK color

CorelDRAW
Pilih masing-masing objek yang akan dikonversi. Pilih Fill tool dan klik Fill Color Dialog. Pastikan model warna adalah CMYK. Untuk setiap objek dengan garis/outline : Pilih Outline tool dan klik Outline Color Dialog. Pastikan model warna adalah CMYK.

Microsoft Publisher 2003-2007
Pilih Tools > Commercial Printing Tools > Color Printing
, pilih Process Colors (CMYK)

Adobe Indesign
Pilih Window > Swatches dan Window > Color. Klik ganda color di Swatches dan ganti color mode ke CMYK dan color type ke Process.

Jenis Kertas untuk Keperluan Cetak

Jenis Kertas untuk Keperluan Cetak

Begitu banyak jenis kertas yang bisa digunakan untuk keperluan cetak. Klikprint merangkum sebagian dari jenis kertas yang biasa dipakai untuk keperluan cetak.

1. HVS ( Houtvrij Schrijfpapier / dari bahasa Belanda ).
Kertas warna putih biasannya digunakan untuk fotocopy atau print. Dengan ukuran A4-A0 ada pula yang F4 danQ4.

2. HPL.
Kertas warna-warni ( merah, kuning, hijau, biru ) jenis kertas HVS tapi tersedia hanya ukuran F4. Digunakan untuk pembatas buku skripsi. Bisa juga untuk brosur print BW( blackwhite ).

3. AP (Art Paper).
Kertas warna putih yang lentur dan tipis serta agak mengkilap, digunakan untuk cetak kertas, isi majalah, leaflet, annual report, kalender dan pelapis hardcover.

4. MP (Matte Paper).
Hampir sama dengan art paper cuma yang ini tidak mengkilap. Kalau bikin pin biasanya pakai jenis kertas yang ini.

5. AC (Art Carton).
Lebih tebal dari art paper dan matte paper. Aplikasinya untuk kartu nama, poster, foto, undangan, isi buku, kalender meja, cover majalah ( soft cover ).

6. Concorde.
Dengan warna putih atau krem jenis kertas yang bertekstur ini ada yang tipis dan tebal. Untuk print kop surat dan sertifikat.

7. BW (Blues White).
Putih dengan gramatur tebal dengan tekstur yang terasa jelas/agak kasar karakter dari kertas ini. Biasa untuk print kartu nama dan sertifikat.

8. Coronado.
Mirip dengan BW cuma teksturnya yang lembut yang membedakan jenis kertas ini dengan Blues White.

9. Fancy.
Tekstur yang jelas dan bisa dibilang agak kasar adalah ciri kertas yang satu ini. Kartu nama, kartu ucapan, undangan bisa dibuat dengan kertas yang satu ini.

10. Kalkir.
Kertas transparan untuk print gambar kerja atau gambar sablon. Tersedia ukuran A0, A1, A2.

11. Sticker.
Kertas sticker untuk print sticker.

12. Samson.
Adalah kertas daur ulang dengan warna coklat. Digunakan untuk cetak paper bag atau packaging, jenis kertas ini biasa disebut juga kraft linear.

13. Linen.
Kertas dengan banyak pilihan warna ( lebih dari 10 warna ) bertekstur dan tebal, kertas ini cocok untuk cover buku. Ada jenis kertas yang hampir sama dengan kertas linen ini yaitu kertas buffalo.

14. Omega / Asturo.
Kertas warna-warna dengan ukuran kurang lebih double A3. Biasa difungsikan sebagai cover, khususnya untuk cover buku hardcover yang menggunakan poly ( lapisan untuk menghasilkan warna seperti warna emas/perak ).

15. BC ( Brief Card ).
Warna kertas putih, jika mengenal buku gambar waktu kita sekolah SD dulu, kurang lebih jenisnya seperti kertas tersebut. Di digital printing kertas BC digunakan untuk membuat buku hardcover. Difungsikan untuk menyambungkan isi dengan cover.

16. HSSD ( Hybrid Super Standard ).
Sering digunakan untuk buku-buku novel, isinya jenis kertas HSSD, kertas warna coklat buram dan terasa lebih ringan bila dibandingkan dengan kertas HVS. Dimaksudkan agar saat membaca tidak silau karena kertas yang terang, sehingga mata tidak gampang lelah saat membaca.

Jenis-jenis kertas tersebut di atas disesuaikan dengan tujuan penggunaannya. Jangan sampai Anda salah pilih bahan kertas yang akan digunakan untuk kebutuhan cetak Anda

Bagaimana Percetakan Tradisional Bekerja?

Bagaimana Percetakan Tradisional Bekerja?

Abad 15 adalah masa di mana teknologi percetakan muncul sebagai sebuah penemuan besar. Adanya perkembangan percetakan modern memungkinkan dicetaknya ribuan buku di dunia. Meskipun saat ini banyak surat kabar, buku, dan berbagai media yang dicetak beralih menjadi versi online, percetakan tetap menjadi sektor yang sangat penting seperti sedia kala. Lihatlah ruang di sekeliling anda dan anda akan menemukan banyak jenis hasil cetak, mulai dari stiker, T-shirt, poster, dan lain-lain. Jadi, bagaimana sebenarnya mesin pencetak bekerja? Pada artikel kali ini kita akan memperlajari beberapa cara kerja mesin percetakan tradisional sehingga kita memahami perbadingannya dengan mesin percetakan digital. Mari kita lihat lebih dekat cara kerjanya.

Proses percetakan berarti proses memproduksi kata dan gambar pada kertas, plastik, kain, atau material lainnya. Proses ini dapat menghasilkan lukisan yang sangat mahal hingga jutaan copy dari novel terkenal seperti Harry Potter. Dalam bahasa Inggris, percetakan disebut printing. Mengapa disebut printing? Kata printing awalnya berasal dari bahasa latin premĕre yang artinya menekan, karena segala hal yang berhubungan dengan percetakan melibatkan proses penekanan satu benda ke benda lainnya.

Meskipun ada banyak jenis, pada dasarnya percetakan melibatkan konversi dari kata-kata atau gambar yang kita buat menjadi sebuah cetakan yang disebut piring percetakan yang ditutupi oleh tinta dan kemudian ditekankan pada selembar kertas, atau media lainnya sehingga hasil cetaknya menjadi sama dengan informasi atau gambar awal yang kita buat. Beberapa bentuk percetakan yang popular seperti fotokopi, inkjet, dan percetakan laser, bekerja dengan melakukan transfer tinta  pada kertas menggunakan panas atau listrik statis.

Terdapat 3 jenis metode umum dalam percetakan tradisional, yaitu Reflief atau Letterpress, gravure atau intaglio, dan offset. 3 Metode ini melibatkan proses transfer tinta dari lempengan cetakan kepada media yang akan dicetak, tetapi setiap metode ini sedikit berbeda:

  • Relief adalah metode cetak tradisional yang paling dikenal. Jika anda pernah membuat potato print atau menggunakan mesin ketik kuno, artinya anda pernah menggunakan metode cetak ini. Dasar ide dari metode ini adalah anda membuat sebuah pola dengan versi terbalik dari gambar yang ingin anda cetak, kemudian anda menempelkan permukaan pola tersebut pada permukaan lempengan cetak dan memberikan tinta di atasnya. Karena permukaan cetaknya lebih tinggi dari bagian lempengan lainnya, maka hanya bagian permukaannya yang memberikan tinta. Setelah itu, tekan lempengan yang telah diberikan tinta tersebut pada kertas atau media cetak lainnya dan hasil cetak anda akan muncul pada media cetak.

  • Gravure merupakan metode kebalikan dari cetak relief. Metode cetak ini dilakukan dengan menggali atau membuat ukiran dalam dari gambar yang ingin kita cetak pada lempengan cetak. Ketika anda ingin mencetak gambar tersebut, anda tinggal melapisi ukiran yang anda buat dengan tinta. Setelah itu kita memindahkan piringan yang bersih sehingga tinta tersebut hilang dari permukaan namun tetap tinggal pada bagian yang anda ukir. Langkah terakhir, anda tinggal menekan piringan tersebut pada media cetak, sehingga tinta tersebut berpindah pada media cetak.
  • Offset, merupakan metode cetak dengan transfer tinta dari lempengan cetak pada media cetak, namun cara kerjanya tidak dengan menekan lempengan pada media cetak secara langsung. Lempengen yang telah diberi tinta ditekankan pada sebuah roll, kemudain roll tersebut akan memindahkan gambar yang ingin dicetak pada media cetak dengan menekan media cetaknya. Offset printing tidak menggunakan lempengan piring untuk mencetak berkali-kali pada media cetak. Metode ini menghasilkan kualitas cetak yang lebih tinggi.
Ragam Efek dalam Dunia Percetakan

Ragam Efek dalam Dunia Percetakan

Dunia percetakan merupakan dunia yang sangat dekat dengan para desainer grafis. Oleh karena itu, penting bagi para desainer grafis untuk mengetahui hasil-hasil cetakan seperti apa saja yang dapat dihasilkan oleh percetakan. Bukan hanya sekedar menambah wawasan, tapi hasil percetakan ini akan menentukan sejauh apa kreatifitas sang desainer grafis dapat diwujudkan melalui percetakan. Salah satunya adalah pengetahuan teknik-teknik dalam dunia percetakan yang dapat memberikan efek yang menarik pada hasil cetak. Tidak banyak yang tahu bahwa dunia percetakan mampu menghasilkan efek-efek tersebut. Efek ini membuat hasil cetak tidak membosankan sehingga membuat orang ingin membaca bahkan menyimpan hasil cetak tersebut. Berikut ini beberapa efek dalam percetakan yang bisa anda coba :

  1. Translucent papers

Efek ini dibuat dengan cara mencetak hasil desain grafis ke atas media yang tembus pandang misalnya di atas kertas kalkir. Dengan menggunakan translucent papers, hasil cetak akan terkesan berlapis-lapis atau multilayered. Biasanya efek ini digunakan pada brosur atau undangan.

  1. Die Cut

Teknik ini dilakukan dengan menggunakan pisau logam yang tajam  namun disesuaikan dengan bentuk yang dekoratif. Teknik ini digunakan untuk membuat hasil cetak terlihat memiliki bingkai (frame).

  1. Concertina folding
    Teknik ini merupakan teknik penjilidan yang membuat hasil cetak yang ukurannya cukup panjang menjadi bisa dilipat kecil sehingga menjadi lebih praktis namun tetap kreatif.  Contohnya seperti di bawah ini:

 

  1. Poli (spot metallic inks)
    Teknik ini digunakan untuk membuat cetakan terlihat mengkilap seperti terbuat dari metal ataupun logam, seperti di bawah ini :

  1. Laser cutting
    Teknik ini digunakan untuk mempermudah kita dalam membuat jenis potongan yang rumit pada karya desain kita. Laser cutting membuat hasil potongan menjadi lebih rapi dan juga presisi, misalnya seperti hasil cetak di bawah ini :

    

Teknik ini jelas sangat mempermudah anda untuk membuat karya-karya yang kreatif tanpa harus repot-repot memotong bagian-bagian kecil dari desain anda.

  1. Emboss & Deboss
    Teknik Emboss dan teknik deboss banyak digunakan pada kartu nama ataupun undangan. Teknik emboss membuat hasil cetak timbul ke bagian atas. Sementara, teknik deboss membuat hasil cetak masuk ke dalam . Penggunaan teknik ini dapat memberikan kesan elegan pada hasil cetak. Teknik ini sudah banyak sekali digunakan.

  1. Pop-ups

Efek yang ditimbukan dari pop-ups mampu membuat para pembaca hasil cetak ingin menyimpan hasil cetak anda. Dulu, teknik ini banyak digunakan pada kartu ucapan selamat hari raya. Sebenarnya teknik ini pembuatannya cukup rumit. Pop up  membutuhkan 2 bidang halaman yang dilipat sebagai dasar dari efek pop-up. Pada saat di buka, pop-up tersebut akan muncul keluar.

Mengenal Jenis-jenis Coating

Mengenal Jenis-jenis Coating

Coating dalam bahasa Indonesia disebut pelapisan. Dalam percetakan, coating juga dapat disebut sebagai proses finishing yang juga dapat meningkatkan sifat dari permukaan benda yang dilapisi. Material pelapis berupa cairan yang dilapiskan pada permukaan yang sudah dicetak dan kemudian menjadi keras karena proses kimia atau fisika. Dengan coating, permukaan tersebut dapat melindungi hasil cetak dari goresan, noda, sidik jari, cairan, suhu udara, panas, dan lain-lain sehingga hasil cetak dapat bertahan lebih lama.

Dalam dunia percetakan terdapat pula kertas coated. Apabila hasil coating diaplikasikan pada kertas ini maka hasilnya akan lebih optimal karena permukaannya tidak keras namun juga tidak mudah menyerap air. Biasanya hasil cetak akan memiliki efek glossy atau mengkilap, satin (tidak mengkilap), dan doff (redup) setelah diberi coating.

Coating memiliki beberapa fungsi yaitu:

  • Perlindungan – Coating melindungi permukaan hasil cetak dari gesekan. Selain itu Coating juga menawarkan berbagai fungsi seperti penahan cairan dan lemak (barrier) dan tahan terhadap suhu tinggi (heat resistance).
  • Produktivitas – Coating dilakukan dapat dilakukan dengan mesin berkecpatan tinggi sehingga prosesnya bisa dilakukan lebih cepat
  • Penampilan – Coating dapat membuat hasil cetak yang lebih menarik perhatian
  • Keamanan – Coating dapat mencegah tinta berpindah (bermigrasi) dan nyaris tidak berbau (low odour)

Terdapat beberapa jenis coating, antara lain:

  1. Varnish

Varnish merupakan jenis coating yang berupa cairan yang dituangkan di atas permukaan kertas melalui sebuah tempat penintaan baik secara inline (langsung pada mesin cetak) atau offline. Dengan coating menggunakan varnish, kertas yang dicetak umumnya menjadi berwarna kuning.

  1. Laminating

Proses ini mungkin sudah  kita bahas pada artikel-artikel sebelumnya. Ternyata laminasi juga dikategorikan sebagai proses coating menggunakan lapisan berupa plastik yang transparan dan dilakukan menggunakan mesin laminating. Dengan laminasi, hasil cetak menjadi lebih awet dan terlihat lebih eksklusif.

  1. Aqueos Coating

Aqueos coating, seperti namanya, Aqua berarti air. Coating ini berbahan dasar air (water based) dan mudah kering. Tujuan dari coating ini adalah agak permukaan hasil cetak tidak mudah tergores. Jenis coating ini cukup ramah lingkungan jika dibandingkan jenis coating lainnya. Untuk mengaplikasikan aqueos coating pada media cetak, sebaiknya dilakukan pada kertas yang tidak terlalu tipis sehingga tidak melengkung, basah, ataupun berubah warna menjadi kuning dalam waktu yang cukup lama.

  1. UV Coating

UV Coating dilakukan dengan memberikan cairan bening yang dapat bereaksi langsung dengan sinar ultra violet. Dengan coating ini, kita dapat memiliih hasil akhir cetak yang kita inginkan, apakah kita menginkan hasil cetak yang glossy, doff, ataupun satin.

Untuk anda yang menyukai hasil cetak yang memberikan kesan halus dan juga eksklusif serta elegan, coating dapat menjadi solusi untuk mewujudkan hasil cetak yang anda inginkan

Penemuan Warna

Penemuan Warna

Warna merupakan unsur penting dalam dunia percetakan. Tanpa warna, hasil desain yang akan dicetak tidak akan memiliki nilai estetika yang dapat menarik orang untuk melihatnya. Hal ini sesuai dengan apa dikemukakan oleh Arniti Kusmiati dan Pramudji Suptandar dalam bukunya “Unsur Warna dalam Perancangan Desain” bahwa warna menjadi unsur penting dalam sebuah desain. Sebab, warna membuat suatu karya desain memiliki nilai lebih. Warna sendiri merupakan mutu cahaya yang dapat ditangkap oleh indra pengelihatan kita (Arniti Kusmiati dan Pramudji Suptandar, 1997:1). Sedangkan menurut Mita Purbasari (2000:12-13), warna adalah sebuah alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan suatu pesan, ide, ataupun gagasan tanpa menggunakan tulisan atau bahasa.

Dari pernyataan ini dapat kita simpulkan, salah satu unsur penting dalam percetakan digital adalah bagaimana warna yang merupakan sebuah penambah nilai dalam hasil karya atau desain dapat diproduksi secara tepat. Produksi dari pewarnaan yang tepat juga perlu didukung oleh pengetahuan mengenai asal mula warna itu sendiri. Oleh karena itu mari kita sedikit mempelajari sejarah dari warna.

Warna sendiri ditemukan melalui berbagai percobaan oleh beberapa ilmuan pada tahun yang berbeda. Temuan-temuan itu saling menopang satu sama lain sehingga pengetahuan akan warna terus berkembang dari zaman ke zaman.

  • Tahun 1660 : Issac newton melakukan percobaan dengan prisma kaca yang membuktikan bahwa sinar putih terdiri dari beberapa warna (spektrum warna).
  • Tahun 1731 : J. C. Le Blon menemukan warna utama yaitu kuning, merah, dan biru sebagai warna utama.
  • Tahun 1790 : Hermann Von Helmholzt dan James Clerk Maxwell mendasarkan warna pada cahaya matahari dan bertumpu pada hukum hukum fisika.
  • Tahun 1810 : Johann Wolfgang Von Goethe menggolongkan warna menjadi dua warna utama yaitu kuning (yang berhubungan dengan kecerahan) dan biru (dengan kegelapan)
  • Tahun 1824 : Michel Eguene Chevreul, seorang direktur utama perusahaan permadani di Prancis, mengembangankan teori harmoni warna pada textile the law of simultaneous constrast of colour. Ia juga mengembangkan teori merah kuning biru.
  • Tahun 1831 : David Brewster menyederhanakan warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna yaitu primer, sekunder, terseier, dan netral
  • Tahun 1879 : Ogden Rood mengembangkan teori lingkaran warna berdasarkan warna merah hijau biru dan terdapat warna putih di tengahnya.
  • Tahun 1898 : Albert H. Munsel ia mulai menggunakan sistemnya pada tahun 1898 dan menerbitkannya dalam a colour notation 1965. Ia memakai rintisan warna yang dikemukakan oleh ahli fisika berupa lingkaran warna 3 dimensi (hue, value, crhoma).
  • Tahun 1900 : Helbert E. Ives mengemukakan pencampuran warna sebagai berikut :
  • red = magenta + cyan
  • blue = magenta + turquoise

Hasil dari pencampuran ini adalah lingkaran warna dengan warna primer magenta, cyan, yellow.

  • Tahun 1934 : Farber Biren, seorang ilmuan Amerika membuat percobaan sendiri dengan membuat bagan berdasarkan warna tradisional (merah, kuning, biru). Kemudian ia membuat lingkaran warna yang pusatnya tidak di tengah karena menurutnya, warna panas lebih dominan dari pada warna sejuk.

Teori-teori inilah yang mendorong berkembangnya penggunaan warna diberbagai bidang termasuk dalam bidang desain dan digital printing. Anda memiliki kebutuhan cetak yang cepat dan berkualitas? Tidak perlu repot-repot keluar dari rumah anda

Bingung cara memadukan warna? Skema warna

Bingung cara memadukan warna? Skema warna

Halo sobat kali ini bakal saya bhs tentang skema warna, Skema warna ialah hal yang urgen untuk diketahui khususnya bagi kamu yg berlangsung di dunia desain grafis atau percetakan. Dengan mempelajari skema warna, anda menjadi tahu warna-warna apa saja yang sesuai untuk dipadukan saat menciptakan hasil karya desain yang bakal dicetak. Terdapat 7 skema warna yang akan anda bahas. Namun pada tulisan kali ini anda akan membicarakan 4 skema warna saja.

Skema warna monokromatik (monochromatic color scheme)

Skema warna ini diciptakan dengan memakai satu warna yang sama pada roda warna namun diciptakan dalam sejumlah shades (gelap), tints (terang), atau tones sehingga menyerahkan perpaduan warna yang bertolak belakang pada warna monokromatik. Shades ialah warna murini yang dicampurkan dengan warna hitam. Tints ialah warna murni atay hue yang dicampurkan dengan warna putih. Tones adalan warna murni atau hue yang dicampurkan dengan warna abu-abu. Skema warna ini menyerahkan kesan bersih dan elegan.

Pada misal skema monokromatik di bawah ini, semua badan lure memakai versi warna hijau. Warna yang dibutuhkan ialah hijau, hitam, dan putih. Dengan memakai rasio yang bertolak belakang dari putih ke hijau atau hitam ke hijau akan menyerahkan semua variasi warna yang kamu butuhkan.

Berikut ini misal lain dari warna monokromatik:

 

Skema warna yang saling melengkapi (complementary color scheme)

Dalam skema warna ini, seluruh warna yang digunakan ialah warna yang saling bertentangan pada roda warna. Mata manusia ingin tertarik pada sesuatu dengan warna komplementer. Ketika kamu merancang lure (umpan palsu) untuk dipasarkan komersil dicat dengan warna komplementer (ungu dan kuning), dan menanam umpan monokromatik disamping umpan komplementer dalam satu rak, semua pembeli/pemancing barangkali lebih tertarik pada umpan dengan warna komplementer (dengan asumsi pengerjaan cat yang baik).

Contoh dapat disaksikan pada gambar di bawah ini. Anda barangkali akan menyaksikan bahwa skema warna ini ingin untuk menyerahkan hal yang lebih bila dikomparasikan dengan warna monokromatik. Ini ialah ciri khas umpan yang dicat dengan teknik komplementer, orang-orang menyaksikan demikian.

Warna skema barangkali melibatkan warna kombinasi. Pasangan komplementer merangkum biru dan oranye, merah dan hijau, serta ungu dan kuning. Skema warna komplementer ini bisa menggunakan sekian banyak tingkat kecerahan dan kejenuhan guna meningkatkan sekian banyak warna.

Skema warna analog (Analog Color Scheme)

Skema warna yang analog memakai satu warna pada roda warna dan dua warna di sebelahnya. Contoh skema warna Analog hangat ialah merah, oranye dan kuning atau sedangkan skema warna analog dingin ialah biru, ungu dan hijau.

Pendekatan skema analog yakni memilih warna, 3 hingga 5 warna yang berdampingan satu sama beda dalam diagram roda warna. Skema analog yang sangat terkenal ialah skema warna yang dipakai pada umpan klasik firetiger dengan pola yang terdiri dari warna hijau terang, kuning, dan orange.

Skema warna Triadic (Triadic color scheme)

Skema warna Triadic mempunyai kombinasi tiga hue yang relatif berjarak sama dalam color wheel. Gambar di samping merupakan misal dari skema warna Triadic, dimana ada tiga kombinasi hue yakni hue warna merah, kuning, dan warna biru. Ketiga hue ini adalahwarna primer sampai-sampai mempunyai jarak yang sama dalam color wheel. Warna kuning mencerminkan kehangatan yang dilengkapi dengan warna merah pada latar yang memperkuat gambar yang mempunyai sifat yang panas. Warna biru pada pakaian yang mempunyai sifat dingin memecah keadaan panas pada gambar tersebut. Dari ketiga kombinasi hue pada gambar tersebut memunculkan kesan yang dinamis.

Jika suatu segitiga sama sisi ditarik di atas roda warna, sudut yang bakal menyentuh tiga warna. Warna menyentuh dirasakan warna triadic. Warna-warna primer triadic, laksana warna sekunder dan warna tersier.

Skema warna Tetradic (Tetradic color scheme)

Skema warna tetradic ialah skema warna yang melibatkan dua pasangan yang saling melengkapi secara bersamaan. Jika persegi panjang digambar di atas roda warna, dua pasangan yang saling melengkapi sentuhan sudut bakal menjadi dasar guna skema warna triadic. Skema warna tetradic merupakan skema warna yang perumahan dan beragam. Skema warna tetradic disebut pun sebagai ganda komplementer sebab menggunakan dua set warna komplementer. Meskipun skema ini dapat terlihat bervariasi dan berwarna-warni, akan namun ini susah untuk menyeimbangkannya.Skema warna split komplementer (Split complementary color scheme)

Skema ini ialah kombinasi warna-warna yang saling bersebrangan letaknya dalam lingkaran warna. Split komplementer memakai satu warna dan dua warna di sisi objek yang melengkapi. Warna primer ialah merah, kuning dan biru. Warna-warna sekunder ungu, hijau dan oranye. Warna salah satu warna-warna primer dan sekunder dinamakan warna tersier. Contoh : Merah dan hijau, Kuning kehijauan dan ungu kemerahan

Skema warna persegi(Square color scheme)

Skema warna persegi serupa dengan skema warna tetradic, namun dengan empat warna spasi secara merata di dekat lingkaran warna. Skema warna persegi merupakan skema warna yang sangat kompleks dan beragam. Skema warna ini bakal lebih baik andai membiarkan satu warna menjadi dominan. Juga mesti memperhatikan ekuilibrium antara warna-warna hangat dan sejuk dalam desain yang akan anda buat.

Demikianlah sedikit coretan mengenai skema warna, Pada artikel berikutnya kita akan membahas 4 skema warna lainnya. Simak terus artikel dari kami agar anda dapat menemukan perpaduan warna yang baik untuk desain yang akan anda cetak. Jangan Bingung memadikan warna, pelajari skema warna dan Selamat mencoba!